Catatan:
-Aku tidak ingat kapan cerpen ini aku tulis.
-Cerpen ini terinspirasi dari kisahku. Meskipun plot, karakter, dan kejadiannya tidak seperti yang terjadi di cerpen, tapi inti ceritanya kurang lebih sama.
-Pernah aku ikutkan lomba menulis cerpen yang diadakan oleh Koran Minggu Pagi (aku lupa kapan), tapi tidak menang.
-Beberapa kali ditolak majalah yang pernah aku kirimi naskahnya dan akhirnya aku publish di blog ini.
Sinopsis:
Jessica menerima surat dari Leo yang mengaku sebagai sahabat Bram. Menurut Jessica, surat itu terlalu menyudutkannya. Hal itu membuatnya merasa harus bertemu dengan Bram yang menurut Leo telah tersakiti hatinya karena Jessica. Tapi Jessica malah bertemu dengan Leo. Dan pertemuan mereka pun tetap bermuara pada satu kesimpulan dan kenyataan bahwa Jessica tidak bisa membalas perasaan Bram. Jessica berharap masih ada cinta yang lain untuk Bram karena ia sendiripun sudah punya seseorang yang dicintai dan mencintainya.
Maharani Menulis:
-Aku tidak ingat kapan cerpen ini aku tulis.
-Cerpen ini terinspirasi dari kisahku. Meskipun plot, karakter, dan kejadiannya tidak seperti yang terjadi di cerpen, tapi inti ceritanya kurang lebih sama.
-Pernah aku ikutkan lomba menulis cerpen yang diadakan oleh Koran Minggu Pagi (aku lupa kapan), tapi tidak menang.
-Beberapa kali ditolak majalah yang pernah aku kirimi naskahnya dan akhirnya aku publish di blog ini.
Sinopsis:
Jessica menerima surat dari Leo yang mengaku sebagai sahabat Bram. Menurut Jessica, surat itu terlalu menyudutkannya. Hal itu membuatnya merasa harus bertemu dengan Bram yang menurut Leo telah tersakiti hatinya karena Jessica. Tapi Jessica malah bertemu dengan Leo. Dan pertemuan mereka pun tetap bermuara pada satu kesimpulan dan kenyataan bahwa Jessica tidak bisa membalas perasaan Bram. Jessica berharap masih ada cinta yang lain untuk Bram karena ia sendiripun sudah punya seseorang yang dicintai dan mencintainya.
Maharani Menulis:
MASIH ADA CINTA YANG LAIN
“… Kamu sungguh tidak punya hati, Jessica. Hanya demi kekasihmu, kamu tega menyakiti hati Bram. Surat balasanmu itu benar-benar sangat melukai perasaannya. Bram begitu mencintaimu, tapi kamu terlalu egois…”
Jessica membaca surat yang dipegangnya itu dengan perasaan campur aduk antara geram, marah, dan ingin menangis. Betapa tidak? Tiba-tiba saja seseorang yang bahkan tidak dikenalnya menuduhnya demikian. Tidak punya hati dan egois. Tanpa alasan yang masuk akal. Siapa yang tidak kesal?
Adalah Leo, si pengirim surat yang juga mengaku sebagai sahabat Bram benar-benar telah membuat Jessica merasa seperti seorang penjahat saja—di mata Leo, tentunya. Jessica, the suffering maker, begitulah kira-kira gelar kini disandangnya karena dia telah dengan tegas dan berani menolak cinta Bram sehingga melukai perasaannya.
Padahal jelas-jelas Jessica punya alasan yang sangat masuk akal dalam penolakannya. Setidaknya, ada tiga alasan kenapa dia tidak bisa menerima cinta Bram. Pertama: Jessica tidak begitu mengenal siapa Bram meskipun mereka pernah satu sekolah ketika SMU, tapi tidak pernah satu kelas. Kedua: Jessica memang tidak memiliki perasaan apa-apa terhadap Bram bahkan dia sempat kaget ketika tiba-tiba ada sepucuk surat cinta dari Bram datang padanya beberapa waktu yang lalu. Ketiga (yang paling penting): Jessica saat ini sudah punya kekasih!
Apakah ketiga alasannya itu masih kurang jelas atau tidak wajar? Lalu, Jessica harus bagaimana lagi untuk membuat mereka mengerti? Haruskah, sekali lagi, dia menjelaskannya? Penjelasan secara langsung pada Bram—setidaknya. Face to face meeting. Jessica dan Bram harus bertemu muka agar semuanya jelas. Mungkin itu satu-satunya jalan terbaik.
Jessica membaca surat yang dipegangnya itu dengan perasaan campur aduk antara geram, marah, dan ingin menangis. Betapa tidak? Tiba-tiba saja seseorang yang bahkan tidak dikenalnya menuduhnya demikian. Tidak punya hati dan egois. Tanpa alasan yang masuk akal. Siapa yang tidak kesal?
Adalah Leo, si pengirim surat yang juga mengaku sebagai sahabat Bram benar-benar telah membuat Jessica merasa seperti seorang penjahat saja—di mata Leo, tentunya. Jessica, the suffering maker, begitulah kira-kira gelar kini disandangnya karena dia telah dengan tegas dan berani menolak cinta Bram sehingga melukai perasaannya.
Padahal jelas-jelas Jessica punya alasan yang sangat masuk akal dalam penolakannya. Setidaknya, ada tiga alasan kenapa dia tidak bisa menerima cinta Bram. Pertama: Jessica tidak begitu mengenal siapa Bram meskipun mereka pernah satu sekolah ketika SMU, tapi tidak pernah satu kelas. Kedua: Jessica memang tidak memiliki perasaan apa-apa terhadap Bram bahkan dia sempat kaget ketika tiba-tiba ada sepucuk surat cinta dari Bram datang padanya beberapa waktu yang lalu. Ketiga (yang paling penting): Jessica saat ini sudah punya kekasih!
Apakah ketiga alasannya itu masih kurang jelas atau tidak wajar? Lalu, Jessica harus bagaimana lagi untuk membuat mereka mengerti? Haruskah, sekali lagi, dia menjelaskannya? Penjelasan secara langsung pada Bram—setidaknya. Face to face meeting. Jessica dan Bram harus bertemu muka agar semuanya jelas. Mungkin itu satu-satunya jalan terbaik.
***